"dia berubah!" tiba - tiba tak bisa kutahan keinginanku untuk mengutarakan pendapat subyektif itu. sore ini, seperti biasa ada aku, dan kamu yang selalu sibuk dengan laptopmu.
"dia siapa? power ranger?" kudaratkan kepalan tangan di puncak kepalamu. bukan itu tanggapan yang ingin kudengar.
tapi aku tahu bahwa kamu tahu siapa dia yang kumaksud. dia, yang sudah 23 hari ini selalu kudengungkan namanya. dia, yang seperti cokelat manis hangat.
"belakangan ini dia aneh" aku kembali mencoba menarik perhatianmu
"aneh gimana? kayak zordon?" jawabmu asal, tanganmu kau angkat untuk melindungi kepala
"belakangan ini, sulit sekali nyambung sama dia. kami seperti ada di dunia yang berbeda .." dan pikiranku melayang ke hari - hari lalu. di saat aku pertama kali mengenal dia, dan tergila - gila.
harus kuakui, sekali ini aku serius berpikir bahwa aku sudah menemukan belahan jiwa. bagaimana sejak awal, aku dan dia bisa saling memahami tanpa penjelasan. bagaimana aku merasa mengenal dia sejak kali pertama memandang. mungkinkah aku ... salah?
mungkin selama ini hanya bagian kecil dari dirinya yang aku tahu. mungkin selama ini dia hanya menyesuaikan diri denganku, dan kini mulai merasa lelah. mungkin aku yang kemarin hari menyesuaikan diri dengannya, dan kini lelah. atau mungkin kami memang sebenarnya cocok hanya saja .... entahlah, aku tidak bisa memikirkan penjelasan untuk perubahan ini.
"menurutmu aku harus gimana?" rutinitas, aku selalu merasa perlu menutup percakapan kita dengan tanya itu. tanya yang menggantung tipis tapi susah sekali ditepis.
kamu diam. matamu terpancang pada layar laptop, tanganmu sibuk dengan mouse menghasilkan bunyi klik-klik yang terdengar gurih di telinga. perlahan kamu bergerak, mengedarkan pandangan sebelum akhirnya mendarat di segelas cappucino yang mengepul di sebelah siku kirimu. dengan khusyuk kamu menggerakkan tangan, mendekatkan bibir cangkir ke bibirmu lalu menyeruput dengan mata terpejam. kamu menghela nafas panjang.
"kopi hari ini enak sekali.." dan hanya itu yang kamu katakan. aku paham. kamu ingin bilang bahwa tak ada yang perlu kulakukan. aku paham, bahwa menurutmu aku tak bisa mengubah keadaan. yang aku tak paham : kenapa? tidakkah seharusnya kamu menyarankanku untuk lebih dulu mencoba?
aku ingin dia bisa menjadi seperti cokelat manis hangat. bagian dari rutinitasku. pembuka dari ritual pagi hariku, yang selalu sempurna saat dikombinasikan dengan menatap matahari terbit.
untuk kali pertama, kurebut cangkir kopi dari tanganmu, kukecap sedikit. hei, kenapa kamu tak pernah memberitahuku bahwa kopi juga bisa terasa manis?
"dia siapa? power ranger?" kudaratkan kepalan tangan di puncak kepalamu. bukan itu tanggapan yang ingin kudengar.
tapi aku tahu bahwa kamu tahu siapa dia yang kumaksud. dia, yang sudah 23 hari ini selalu kudengungkan namanya. dia, yang seperti cokelat manis hangat.
"belakangan ini dia aneh" aku kembali mencoba menarik perhatianmu
"aneh gimana? kayak zordon?" jawabmu asal, tanganmu kau angkat untuk melindungi kepala
"belakangan ini, sulit sekali nyambung sama dia. kami seperti ada di dunia yang berbeda .." dan pikiranku melayang ke hari - hari lalu. di saat aku pertama kali mengenal dia, dan tergila - gila.
harus kuakui, sekali ini aku serius berpikir bahwa aku sudah menemukan belahan jiwa. bagaimana sejak awal, aku dan dia bisa saling memahami tanpa penjelasan. bagaimana aku merasa mengenal dia sejak kali pertama memandang. mungkinkah aku ... salah?
mungkin selama ini hanya bagian kecil dari dirinya yang aku tahu. mungkin selama ini dia hanya menyesuaikan diri denganku, dan kini mulai merasa lelah. mungkin aku yang kemarin hari menyesuaikan diri dengannya, dan kini lelah. atau mungkin kami memang sebenarnya cocok hanya saja .... entahlah, aku tidak bisa memikirkan penjelasan untuk perubahan ini.
"menurutmu aku harus gimana?" rutinitas, aku selalu merasa perlu menutup percakapan kita dengan tanya itu. tanya yang menggantung tipis tapi susah sekali ditepis.
kamu diam. matamu terpancang pada layar laptop, tanganmu sibuk dengan mouse menghasilkan bunyi klik-klik yang terdengar gurih di telinga. perlahan kamu bergerak, mengedarkan pandangan sebelum akhirnya mendarat di segelas cappucino yang mengepul di sebelah siku kirimu. dengan khusyuk kamu menggerakkan tangan, mendekatkan bibir cangkir ke bibirmu lalu menyeruput dengan mata terpejam. kamu menghela nafas panjang.
"kopi hari ini enak sekali.." dan hanya itu yang kamu katakan. aku paham. kamu ingin bilang bahwa tak ada yang perlu kulakukan. aku paham, bahwa menurutmu aku tak bisa mengubah keadaan. yang aku tak paham : kenapa? tidakkah seharusnya kamu menyarankanku untuk lebih dulu mencoba?
aku ingin dia bisa menjadi seperti cokelat manis hangat. bagian dari rutinitasku. pembuka dari ritual pagi hariku, yang selalu sempurna saat dikombinasikan dengan menatap matahari terbit.
untuk kali pertama, kurebut cangkir kopi dari tanganmu, kukecap sedikit. hei, kenapa kamu tak pernah memberitahuku bahwa kopi juga bisa terasa manis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar