Senin, September 23

cinta dan jendela

malam ini bolehkah aku menulis tentang kamu? 
dengan kalimatku yang sederhana dan kemampuanku yang biasa saja?


bagiku kamu sebingkai jendela. diam tak bergerak tak peduli siapa siapa. 
kamu ada tapi tidak hadir. tidak pernah hadir.
tidak ada interaksi yang berarti antara aku dan kamu. karena kamu hanyalah sebingkai jendela
tapi dengan berada di hadapanmu pun aku sudah cukup bahagia. berkat kamu, aku tahu seperti apa warna warna dunia.
tanpa kamu barangkali aku tidak tahu rinai hujan, gerak awan, kilau sinar, kicau burung. 
melalui kamu aku mempelajari keindahan
memandangimu aku merasa memandangi seluruh semesta. aku menemukan hitam langit malam, putih awan, merah mawar dan coklat tanah
dengan adanya kamu, aku tak lagi merasa perlu yang lain. cukup kamu, untuk menikmati hidup


begitulah. aku jatuh cinta. 
pada sebingkai jendela.


pun meski aku tahu, luas dunia tak hanya sebatas bingkai jendela.
tak apa. biar selamanya aku terkungkung di ruang pengap ini. yang hanya punya sebingkai jendela. aku tak mau keluar.

malam malam merindukanmu. aku bisa apa?

ingin sekali kubisikkan namamu, sekedar agar hati dan telinga ku puas.
sayangnya aku takut angin dengar.
bagaimana jika nanti dia nakal, dan lari mengadu padamu?
aku malu.

ingin kucoba melukis wajahmu,
dengan pensilku dan kemampuan menggambar yang terbata - bata
tapi aku ragu,
bagaimana bisa kutiru rupa malaikat yang dipahat sendiri oleh Tuhan?

jadi akhirnya, malam ini
kuputuskan untuk menikmati kamu dalam kenangan
melumat sosokmu yang tersimpan dalam pikiran
membaui kehadiranmu dengan hati

rindu ini tak terpuaskan
tak mengapa,
setidaknya cukup hingga esok pagi. 
ketika aku bertahan dengan harapan bertemu kamu di ujung hari