Selasa, Mei 29

Bicara tentang #2 : Anjing

aku ga suka dengan cara masyarakat menjadikan 'anjing' sebagai kata makian. bagiku, anjing lucu, setia, pintar dan jauh dari berbagai predikat negatif yang dilekatkan semena - mena pada namanya. mungkin hanya itu yang bisa kunyatakan sehubungan dengan anjing. tak perlu lah aku menuliskan apa saja yang kusuka, dunia sudah tahu. atau haruskah aku menuliskan mimpiku, yang di dalamnya ada anjingnya?

begini, waktu kecil aku pernah memelihara 2 ekor anjing, namanya Tom dan Jerry. kamu pasti bisa menebak asal nama itu. Nah, dua anjing ini, benar-benar dan sungguh-sungguh kusayang. mereka tumbuh bersamaku hungga akhirnya punya banyak anak dan hilang. Hilang, dalam artian anak-anaknya diberikan pada kenalan sedangkan induknya pun akhirnya bernasib sama. Aku patah hati.
Lama sesudahnya, aku mendapat satu lagi anak anjing lucu sekali, entah bagaimana sekarang aku tidak bisa ingat namanya, sekeras apa pun kugali memori. kali ini mati, karena tanpa sengaja menelan tulang kecil yang tertinggal di kerongkongannya. aku patah hati. lagi. lalu aku mendapat anak anjing lagi, yang akhirnya juga mati. karena masuk angin. dimandikan mami siang-siang waktu masih kecil usianya. mamiku berniat baik tapi tetap aku patah hati.
lalu sejak saat itu, hadiah berupa binatang perliharaan dihentikan. aku lelah patah hati.
dan baik di sma hingga saat ini aku tidak lagi punya anjing yang bisa kusebut sebagai milikku sendiri, yang bisa kuajak tidur di kamarku dan kucintai lebih dari apa pun.
dan baik semasa sma hingga saat ini, aku tetap mendamba suatu hari akan datang sebuh kotak berpita, yang ketika kubuka akan keluar cakar lucu dan melompatlah seekor anak anjing. yang lucu. anjing yang binatang dengan segala sifat positifnya. bukan anjing yang manusia dengan segala sifat negatifnya.

Senin, Mei 28

bicara tentang #1 : kudanil

mungkin memang aneh bila seorang gadis, alih-alih menyukai kucing atau sapi, malah menyukai kudanil. tapi apa memang seaneh itu?

jujur saja, bagiku kudanil adalah binatang peringkat satu di dunia! kudanil kufavoritkan bukan hanya karena menggemaskan, tapi lebih karena darinya aku belajar makna menikmati hidup.

iya, dulu aku selalu terburu-buru, serba cepat, serba tergesa. sempat, aku tergila-gila pada cheetah, dan mustang. dan hingga kini masih jadi cita-citaku bahwa aku ingin melintasi padang, secepat angin, di atas punggung mereka. nyaris mustahil, tapi bukannya terlarang untuk diimpikan.
lalu, suatu hari aku menengok kudanil dan .. yah, short of, aku jadi menyadari hal-hal apa saja yang kulewatkan ketika aku sibuk berlari terlalu cepat.

kudanil itu, kerjanya memang hanya berendam dan makan, tapi coba binatang apa lagi yang mengenali bahasa semesta lebih dari dia?
barangkali, kudanil satu-satunya yang hafal pola-pola awan ..
barangkali cuma dia yang bisa membedakan jutaan macam bisik angin ..
barangkali cuma dia yang menikmatipanas dan hujan sama besar ..
barangkali cuma dia yang hafal benar pergerakan bintang dan bulan ..
barangkali cuma dia yang menyadari tiap detak detik ..
dan barangkali juga, dialah satu-satunya yang masih tahan untuk diam dan mencoba mendengarkan semesta .. bahasa rasa ..

disamping itu, aku suka pengucapannya dalam bahasa inggris. hipopotamus terdengar unik dan lucu sekali. begitu berbeda dengan kata-kata lainnya. tertinggal lama di lidah, jika kamu paham apa yang kumaksud.

bagiku, kudanil lucu, dan menggemaskan. dengan giginya yang besar-besar, geraknya yang lamban, badannya yang bulat besar, dan matanya yang menatap. bagiku, kudanil adalah binatang peringkat satu di dunia

Rabu, Mei 2

dialog

tadinya kukira ini akan jadi percakapan telepon biasa
yang kita sama - sama bisa mengonversi suara jadi kehadiran, mengikis biar sedikit rindu yang bersesakan memenuhi dada

tapi ternyata tidak
ternyata selama ini kita hanya melesakkan rindu itu jauh ke bagian belakang, lalu terlupa dan beranggapan bahwa dia sudah hilang
padahal tidak
padahal dia bercokol disana, hibernasi, atau sekedar sabar mencari celah untuk menelisip ke permukaan

siang itu, ketika kamu menelepon di sela jadwalmu makan siang
rinduku ke kamu sedang pasang
dia memang bukan gelombang, tapi juga punya kekuatan menghanyutkan. menyeret dari permukaan dan meghantammu ke jurang kekosongan.
kamu sibuk bicara ini-itu yang aku tak sempurna ingat tentang apa
lalu tanpa sadar, aku sudah memotong kegembiraanmu dengan :
"aku capek"
"hmm?"
"aku capek Ko"
"..."
"memangnya Koko ga capek begini terus? cuma bisa sms an, sesekali aja telponan. ga pernah kemana-mana bareng, ga bisa nyambung waktu cerita"
"..."
"memangnya Koko ga capek?"
ada jeda lama
"capek me, sebenernya capek banget."
"terus kenapa mesti kita lanjutin"
"karena buat aku, capeknya setara. aku ga ada masalah nunggu waktu yang bisa pas cuma buat nelpon meme, soalnya tiap aku denger suara meme rasanya seneng. aku ga masalah harus nunggu libur panjang buat ke jogja, karena aku yakin saat di jogja nanti kita bakal sama-sama. sms-an aja juga gapapa, toh suatu hari nanti kita bakal selalu bisa ketemu tiap hari."
"..."
"aku sayang kamu, me"

sama Ko. tapi itu nggak mengubah kenyataan kalau aku capek.

tapi, dihadapkan pada kalimat seperti itu, aku bisa apa? bagaimana caranya aku merasa ini setara, kalau hatiku yakin bahwa harga yang kubayar terlalu mahal?