ingatkah kamu pada hari itu? pertama saya menatap kamu dengan senyum malu - malu
wajah saya rasanya panas saja dan detak jantung, berdebar terlalu keras
perlahan saya tangkupkan tangan di atas dada,
berjaga - jaga agar jantung tak melompat keluar atau barangkali malah meledak di dalam sana
hari itu, esoknya, dan esok esoknya lagi ..
hanya kamu yang terbayang - bayang
entah apa alasannya. apa senyummu, apa matamu, apa tawamu, apa mimik wajahmu.
tidak tahu
barangkali gabungan kesemuanya
lalu entah mulai sejak kapan, kamu setia mengisi mimpi dan doa - doa saya
sungguh saya berharap kamu bukan sekedar angan,
nyata ada untuk mengisi hati dan hari, mungkin juga lengan saya
begitupun, tidak pernah sekali saya terlebih dahulu menyapa atau sekedar melempar tanya
entah bagaimana jantung saya nantinya jika telinga dipaksa mendengar kamu berkata - kata
saya sudah puas sekedar mencuri - curi lihat.
menanyakan data pada orang ketiga, mungkin keempat. berapa lah, saya kehabisan hitungan
saya mengenalmu dalam ketidaktahuan
saya, dengan noraknya, mulai rajin menulis namamu
rapi dan kecil - kecil
dimana - mana
ada harap yang saya semat dalam tiap garisnya
terhitung tujuh kali saya ikut merayakan ulang tahunmu dalam lantunan sunyi
menanyikan lagu ulang tahun yang tak pernah terdengar
tujuh tahun. delapan puluh tiga surat. seratus tujuh puisi dan delapan ratus tiga puluh lima doa pendek.
semua tentangmu tanpa kamu tahu
akhirnya saya menyerah
berpegang pada cinta yang usang membuat hati gersang
saya memandang kamu lagi,
dari mata yang tujuh tahun lebih tua
entah apa yang membuat saya jatuh cinta sebegini lama .. kamu kah?
atau mungkinkah saya hanya jatuh cinta pada gagasan untuk jatuh cinta?
empat tahun kemudian, saya melihat foto kamu dengan dia
ada sengatan rasa cemburu, kecil saja
atau mungkin itu iri
saya iri padamu, dan orang - orang yang mencinta
kamu tahu? kini tak mudah bagi saya untuk jatuh cinta atau bahkan sekedar sayang ...
mungkin hati saya sudah tutup buku atau syaraf sudah mati rasa. entah yang mana
saya tidak tahu dan tidak berminat untuk mencari tahu
cukup bahwa saya pernah jatuh cinta dan akan, suatu saat nanti
dengan pria pilihan calon anak - anak saya
sekarang ini biar hati saya rehat dan otak saya siaga
puas dengan merangkai kata dari kisah cinta yang saya saksikan tanpa perlu saya cicipi
menghayati pahit manis cinta tanpa saya perlu ikut jatuh tersungkur
begitulah akhir dari #cintakalipertama
wajah saya rasanya panas saja dan detak jantung, berdebar terlalu keras
perlahan saya tangkupkan tangan di atas dada,
berjaga - jaga agar jantung tak melompat keluar atau barangkali malah meledak di dalam sana
hari itu, esoknya, dan esok esoknya lagi ..
hanya kamu yang terbayang - bayang
entah apa alasannya. apa senyummu, apa matamu, apa tawamu, apa mimik wajahmu.
tidak tahu
barangkali gabungan kesemuanya
lalu entah mulai sejak kapan, kamu setia mengisi mimpi dan doa - doa saya
sungguh saya berharap kamu bukan sekedar angan,
nyata ada untuk mengisi hati dan hari, mungkin juga lengan saya
begitupun, tidak pernah sekali saya terlebih dahulu menyapa atau sekedar melempar tanya
entah bagaimana jantung saya nantinya jika telinga dipaksa mendengar kamu berkata - kata
saya sudah puas sekedar mencuri - curi lihat.
menanyakan data pada orang ketiga, mungkin keempat. berapa lah, saya kehabisan hitungan
saya mengenalmu dalam ketidaktahuan
saya, dengan noraknya, mulai rajin menulis namamu
rapi dan kecil - kecil
dimana - mana
ada harap yang saya semat dalam tiap garisnya
terhitung tujuh kali saya ikut merayakan ulang tahunmu dalam lantunan sunyi
menanyikan lagu ulang tahun yang tak pernah terdengar
tujuh tahun. delapan puluh tiga surat. seratus tujuh puisi dan delapan ratus tiga puluh lima doa pendek.
semua tentangmu tanpa kamu tahu
akhirnya saya menyerah
berpegang pada cinta yang usang membuat hati gersang
saya memandang kamu lagi,
dari mata yang tujuh tahun lebih tua
entah apa yang membuat saya jatuh cinta sebegini lama .. kamu kah?
atau mungkinkah saya hanya jatuh cinta pada gagasan untuk jatuh cinta?
empat tahun kemudian, saya melihat foto kamu dengan dia
ada sengatan rasa cemburu, kecil saja
atau mungkin itu iri
saya iri padamu, dan orang - orang yang mencinta
kamu tahu? kini tak mudah bagi saya untuk jatuh cinta atau bahkan sekedar sayang ...
mungkin hati saya sudah tutup buku atau syaraf sudah mati rasa. entah yang mana
saya tidak tahu dan tidak berminat untuk mencari tahu
cukup bahwa saya pernah jatuh cinta dan akan, suatu saat nanti
dengan pria pilihan calon anak - anak saya
sekarang ini biar hati saya rehat dan otak saya siaga
puas dengan merangkai kata dari kisah cinta yang saya saksikan tanpa perlu saya cicipi
menghayati pahit manis cinta tanpa saya perlu ikut jatuh tersungkur
begitulah akhir dari #cintakalipertama