Jumat, Januari 27

bicara #cintakalipertama

ingatkah kamu pada hari itu? pertama saya menatap kamu dengan senyum malu - malu
wajah saya rasanya panas saja dan detak jantung, berdebar terlalu keras
perlahan saya tangkupkan tangan di atas dada,
berjaga - jaga agar jantung tak melompat keluar atau barangkali malah meledak di dalam sana

hari itu, esoknya, dan esok esoknya lagi ..
hanya kamu yang terbayang - bayang

entah apa alasannya. apa senyummu, apa matamu, apa tawamu, apa mimik wajahmu.
tidak tahu
barangkali gabungan kesemuanya
lalu entah mulai sejak kapan, kamu setia mengisi mimpi dan doa - doa saya
sungguh saya berharap kamu bukan sekedar angan,
nyata ada untuk mengisi hati dan hari, mungkin juga lengan saya

begitupun, tidak pernah sekali saya terlebih dahulu menyapa atau sekedar melempar tanya
entah bagaimana jantung saya nantinya jika telinga dipaksa mendengar kamu berkata - kata
saya sudah puas sekedar mencuri - curi lihat.
menanyakan data pada orang ketiga, mungkin keempat. berapa lah, saya kehabisan hitungan
saya mengenalmu dalam ketidaktahuan



saya, dengan noraknya, mulai rajin menulis namamu
rapi dan kecil - kecil
dimana - mana
ada harap yang saya semat dalam tiap garisnya

terhitung tujuh kali saya ikut merayakan ulang tahunmu dalam lantunan sunyi
menanyikan lagu ulang tahun yang tak pernah terdengar
tujuh tahun. delapan puluh tiga surat. seratus tujuh puisi dan delapan ratus tiga puluh lima doa pendek.
semua tentangmu tanpa kamu tahu


akhirnya saya menyerah

berpegang pada cinta yang usang membuat hati gersang

saya memandang kamu lagi,
dari mata yang tujuh tahun lebih tua
entah apa yang membuat saya jatuh cinta sebegini lama .. kamu kah?
atau mungkinkah saya hanya jatuh cinta pada gagasan untuk jatuh cinta?

empat tahun kemudian, saya melihat foto kamu dengan dia
ada sengatan rasa cemburu, kecil saja
atau mungkin itu iri
saya iri padamu, dan orang - orang yang mencinta
kamu tahu? kini tak mudah bagi saya untuk jatuh cinta atau bahkan sekedar sayang ...
mungkin hati saya sudah tutup buku atau syaraf sudah mati rasa. entah yang mana
saya tidak tahu dan tidak berminat untuk mencari tahu
cukup bahwa saya pernah jatuh cinta dan akan, suatu saat nanti
dengan pria pilihan calon anak - anak saya
sekarang ini biar hati saya rehat dan otak saya siaga
puas dengan merangkai kata dari kisah cinta yang saya saksikan tanpa perlu saya cicipi
menghayati pahit manis cinta tanpa saya perlu ikut jatuh tersungkur


begitulah akhir dari #cintakalipertama

Senin, Januari 16

di tengah UAS Genetika Mikrobia

tik tik tik tik
detik jarum jam terus bergerak
garis kurus panjang berjalan tertatih - tatih
namun tiap langkahnya seolah menghentak

dan kau merasakan waktu merembes keluar dari pori - pori kulitmu

mendaki
turun lagi
kembali mendaki
turun lagi
lalu naik
terus begitu berpola lingkaran tiga ratus enam puluh derajat penuh

kamu mengamati tiap geraknya
berharap waktu dapat membeku cukup lama
untukmu dapat membuka buku, mencari jawab, balik duduk
lalu waktu kembali berjalan
dan kamu menulis jawaban dengan santai, seolah memang tak pernah ada jeda

Jumat, Januari 13

kamu, ransel special saya

kalau ditanya apa arti kamu buat saya ...
eumm, entahlah,
saya juga tidak tahu harus menjawab apa


jawaban seperti apa yang kamu harapkan?
apa kamu ingin mendengar tentang betapa kamu adalah udara,
yang tanpanya saya tidak bisa hidup?
eum, sejujurnya tidak tepat begitu!

mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa kamu seperti ...... ransel ?
ya! tas ransel!!

karena kalau mau bicara logis, saya toh memang bisa bertahan tanpa kamu
faktanya, kamu bukan inti dari eksistensi saya
jika tidak ada kamu pun, saya bisa hidup normal!
terdengar kejam? tapi begitulah faktanya

saya memang bisa hidup tanpa kamu,
tapi pada akhirnya saya toh tetap memilih untuk mempertahankan kamu
untuk memastikan kehadiranmu dalam hidup saya
menjadikan kamu bagian penting dalam keseharian saya

orang lain mungkin tidak paham ini tapi saya yakin kamu bisa mengerti :)
tidakkah kamu sadari bahwa saya selalu membawa-bawa tas ransel dimana pun saya berada, bahkan di dalam rumah?
bahwa saya merasa senang dan penuh percaya diri ketika ada ransel yang bertengger di punggung saya?
bagaimana saya mengisi ransel dengan segala benda yang saya suka?
betapa saya berhati - hati dalam merawat dan bahkan meletakkan ransel saya?
bukankah kamu melihat obsesi saya pada ransel?

nah, itu arti kamu buat saya :)

Jumat, Januari 6

bisik bintang di langit

24 jam setiap hari, saya mengikuti keseharianmu
meski tak sekalipun kamu pernah tahu
saya berlari kencang-kencang, berpacu dengan waktu, mengikuti perputaran bumi hingga ke tiap derajatnya
semua itu saya lakukan, agar bisa terus berhadap-hadapan dengan kamu

karena saya mengagumi kamu dan sekaligus iri padamu
lucu, bagaimana mereka memberi nama yang sama bagi kita berdua
saya bintang dan kamu juga bintang
bedanya, saya di langit dan kamu di laut. dua tepi yang saling berhadap-hadapan.

tahukah kamu, betapa saya ingin bertukar posisi dengan kamu, yang ada di laut?
saya iri
tentang bagaimana kamu dengan mudahnya menjadi bagian dari dunia saat yang saya punya hanya kesempatan untuk mengamati
tentang bagaimana saya hanya eksis 8 jam dalam sehari sementara kamu boleh dikunjungi sewaktu-waktu
tentang bagaimana kamu dapat dilihat jelas, dengan mata telanjang, sementara saya tidak

sungguh saya ingin punya kesempatan untuk bertanya pada Tuhan,
kenapa, sekalipun nama kita sama, kita dipisahkan oleh garis hidup yang demikian berbeda?

bisik si bintang laut

duduk-duduk di sini
memandangi kamu ..

tahu bagaimana pemandangan ini terlihat di mata orang-orang?

seperti bintang laut berbaring memandangi bintang di langit
bertanya : mengapa kita diciptakan serupa tapi tak sama?
mengapa hanya kamu, yang diijinkan untuk bersinar dan menikmati pemandangan dari ketinggian?
mengapa kelima sudutmu selalu digambarkan cantik dan aku tidak?
mengapa kamu seolah punya lima sayap, dan aku hanya punya lima tangan?
lima tangan yang terpentang dan mencengkeram bumi erat-erat
mempertahankan diri diam di satu titik .... hanya supaya bisa memandangi kamu di atas sana
hanya supaya bisa mempertanyakan pertanyaan-pertanyaa yang sama
sepanjang hari seumur hidupku

mengapa mereka menamaiku bintang jika mereka tidak pernah berniat mengagumi?

Minggu, Januari 1

ceracau hujan

sayang, coba longok keluar jendela mu, dunia sedang hujan
lalu, apa yang kau lihat dari balik tirai yang disibak?
langit kelam? awan pekat?
hujam air dari langit
atau rinai yang disinari lampu jalan?

Sayang, ini aneh sekali
entah jendela saya yang salah atau jiwa saya yang salah
rasa - rasanya di tiap tetes air terpantul bayang senyummu
dan butir - butir air yang mengetuk jendela .. mereka mendendangkan namamu
dendang manis yang lalu digemakan bertubi - tubi
oleh hujan yang memukul aspal keras

Sayang,
katakanlah bahwa ini semua bukannya luar biasa
ini disebabkan oleh cinta
lalu, nyatakanlah bahwa kamu merasakan hal yang sama