akulah katak
menghabiskan setengah masa hidup di dalam tempurung kelapa
menahun, warna yang kutahu hanyalah aneka gradasi hitam
dan pemandangan yang kulihat adalah gelap
bagiku, tak ada bahagia yang berlebihan
tak ada melompat yang terlalu tinggi
tak ada kesedihan yang lama lekat
dulu, dulu sekali, aku pernah hidup di dunia yang sama dengan kalian
tapi masa itu sudah kelewat lama dan aku sudah terlanjur lupa
sekarang, bagiku dunia sempit saja, segalanya serba pasti dan tergapai. batas langit hanyalah sejauh tempurung ini mengungkung. yang dengan mudah dapat kucapai, cukup dengan mendongak dan mengangkat tangan. dunia yang aku tahu, sama sekali tidak luas dan tidak kejam. bentuk bumi hanyalah setengah bola, panjangnya cuma dua kali panjang badan.
sekian lamanya hidup dalam tempurung, aku mulai nyaman berteman dengan senyap dan pekat. dalam sepi, aku merasa telah tergenapi. dan, tak pernah aku merasa rindu pada dunia luar. aku bahkan tak yakin aku percaya bahwa dunia luar itu ada
begitulah, setelah sekian lama, aku, si katak menjadi terlalu cinta pada tempurungnya. akulah katak, yang merasa merdeka dalam kurungan.
nah, pahamkah kamu apa yang saya maksud? tidak?
begini, tercatat sejak menginjak kelas 8, saya mulai berjalan dengan mata setengah terpejam. tahun 2006, cinta pertama saya menghadap Tuhan. iya, itu papi saya. berhari - hari setelahnya, saya tidak bisa makan apa - apa. apapun yang masuk, selalu kembali keluar. jujur, saya depresi, tapi tidak tau bagaimana cara mengungkapkan. saya ingin menangis tapi tidak bisa. semua orang di sana menangis terlalu keras, dan mengeluh terlalu jelas. saya dengar semua, saya lihat semua. manalah saya tega menuang tambahan garam ke laut yang sudah terlalu asin?
beberapa minggu itu, saya hidup seperti zombie. saya berjalan, bicara dan beraktivitas, tapi sekaligus juga saya tidak berjalan, tidak bicara dan juga tidak beraktivitas. saya berhenti memaknai apapun yang saya lakukan. saya semata menunaikan rutinitas harian. saya melakukan semua, kecuali makan. sesekali saya minum air putih, sesekali mencoba minum susu.
sampai suatu pagi, seorang teman berkunjung ke rumah, lalu berinisiatif menyeduhkan secangkir cokelat hangat. itu rasa - rasanya hidangan pertama yang bisa saya cerna. saya tidak akan lupa bagaimana rasanya cokelat kali pertama itu. hangatnya yang terpancar dari mug dalam genggaman tangan saya. dan rasa pahit-manis yang menyerbu lidah sejak kecap pertama. tapi utamanya adalah, saya terkejut oleh bagaimana kehangatan si cokelat meruyak dan mengisi saya dari dalam. kali itu, saya telah dikenyangkan oleh secangkir cokelat hangat. kali itu, selesai minum, akhirnya saya bisa menangis.
cokelat hangat memberi sensasi yang sudah lama saya lupa. dan saya pun teryakinkan, bahwa segalanya akan baik - baik saja. bahwa saya akan baik - baik saja. bahwa tak peduli apapun yang terjadi, akan selalu ada manis yang bisa dirasa di tengah pahitnya cokelat pekat.
sejak saat itu, saya tak mau peduli bahwa di dunia ada banyak minuman lainnya. saya butuh cokelat hangat di setiap pagi untuk meyakinkan saya bahwa hari itu saya akan tetap baik - baik saja. lucu, betapa justru dari minuman saya beroleh rasa aman.
makanya, ketika saya bertemu dia, yang mirip dengan cokelat manis hangat, saya senang. rasanya seperti katak yang beroleh tempurung lebih besar. saya merasa lebih lega,ada ruang gerak yang lebih luas. tempurung baru saya seolah menjanjikan petualangan baru, yang sebenarnya hanyalah semu. dia memberi sensasi kecanduan yang baru. dengan dia di dekat saya, saya seolah merasa bahwa saya akan baik - baik saja. selama dia ada.
begitulah, saya tergila - gila pada tempurung saya. biarlah selamanya saya terkunci dalam rasa aman semu. biarlah saya hidup dengan ketergantungan pada dia. jika memujanya adalah syarat untuk beroleh hidup wajar, saya rela.
dan jangan kamu mencoba mengeluarkan saya dari dalam tempurung yang saya bangun susah payah. saya belum siap terekspos sinar matahari dan tenggelam dalam hiruk pikuk semesta. saya belum mau berhadap - hadapan dengan dunia. saya belum siap meninggalkan ritual cokelat pagi hari saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar