tadinya kukira ini akan jadi percakapan telepon biasa
yang kita sama - sama bisa mengonversi suara jadi kehadiran, mengikis biar sedikit rindu yang bersesakan memenuhi dada
tapi ternyata tidak
ternyata selama ini kita hanya melesakkan rindu itu jauh ke bagian belakang, lalu terlupa dan beranggapan bahwa dia sudah hilang
padahal tidak
padahal dia bercokol disana, hibernasi, atau sekedar sabar mencari celah untuk menelisip ke permukaan
siang itu, ketika kamu menelepon di sela jadwalmu makan siang
rinduku ke kamu sedang pasang
dia memang bukan gelombang, tapi juga punya kekuatan menghanyutkan. menyeret dari permukaan dan meghantammu ke jurang kekosongan.
kamu sibuk bicara ini-itu yang aku tak sempurna ingat tentang apa
lalu tanpa sadar, aku sudah memotong kegembiraanmu dengan :
"aku capek"
"hmm?"
"aku capek Ko"
"..."
"memangnya Koko ga capek begini terus? cuma bisa sms an, sesekali aja telponan. ga pernah kemana-mana bareng, ga bisa nyambung waktu cerita"
"..."
"memangnya Koko ga capek?"
ada jeda lama
"capek me, sebenernya capek banget."
"terus kenapa mesti kita lanjutin"
"karena buat aku, capeknya setara. aku ga ada masalah nunggu waktu yang bisa pas cuma buat nelpon meme, soalnya tiap aku denger suara meme rasanya seneng. aku ga masalah harus nunggu libur panjang buat ke jogja, karena aku yakin saat di jogja nanti kita bakal sama-sama. sms-an aja juga gapapa, toh suatu hari nanti kita bakal selalu bisa ketemu tiap hari."
"..."
"aku sayang kamu, me"
sama Ko. tapi itu nggak mengubah kenyataan kalau aku capek.
tapi, dihadapkan pada kalimat seperti itu, aku bisa apa? bagaimana caranya aku merasa ini setara, kalau hatiku yakin bahwa harga yang kubayar terlalu mahal?
yang kita sama - sama bisa mengonversi suara jadi kehadiran, mengikis biar sedikit rindu yang bersesakan memenuhi dada
tapi ternyata tidak
ternyata selama ini kita hanya melesakkan rindu itu jauh ke bagian belakang, lalu terlupa dan beranggapan bahwa dia sudah hilang
padahal tidak
padahal dia bercokol disana, hibernasi, atau sekedar sabar mencari celah untuk menelisip ke permukaan
siang itu, ketika kamu menelepon di sela jadwalmu makan siang
rinduku ke kamu sedang pasang
dia memang bukan gelombang, tapi juga punya kekuatan menghanyutkan. menyeret dari permukaan dan meghantammu ke jurang kekosongan.
kamu sibuk bicara ini-itu yang aku tak sempurna ingat tentang apa
lalu tanpa sadar, aku sudah memotong kegembiraanmu dengan :
"aku capek"
"hmm?"
"aku capek Ko"
"..."
"memangnya Koko ga capek begini terus? cuma bisa sms an, sesekali aja telponan. ga pernah kemana-mana bareng, ga bisa nyambung waktu cerita"
"..."
"memangnya Koko ga capek?"
ada jeda lama
"capek me, sebenernya capek banget."
"terus kenapa mesti kita lanjutin"
"karena buat aku, capeknya setara. aku ga ada masalah nunggu waktu yang bisa pas cuma buat nelpon meme, soalnya tiap aku denger suara meme rasanya seneng. aku ga masalah harus nunggu libur panjang buat ke jogja, karena aku yakin saat di jogja nanti kita bakal sama-sama. sms-an aja juga gapapa, toh suatu hari nanti kita bakal selalu bisa ketemu tiap hari."
"..."
"aku sayang kamu, me"
sama Ko. tapi itu nggak mengubah kenyataan kalau aku capek.
tapi, dihadapkan pada kalimat seperti itu, aku bisa apa? bagaimana caranya aku merasa ini setara, kalau hatiku yakin bahwa harga yang kubayar terlalu mahal?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar