Sabtu, April 23

your co-pilot is ready, sir!

ketika kecil, keluarga saya sering berkendara bersama kesana dan kesitu
perlu kita samakan persepsi sebelumnya,
ketika saya bilang berkendara bersama, itu tidak berarti kami semua berebut memegang setir
tetap hanya ada satu orang memegang setir, sementara yang lain-lain akan berceloteh sepanjang perjalanan
mobil kami berganti-ganti
pekerjaan Papa memang mengijinkan terjadinya hal itu
tapi formasi di dalamnya selalu tetap
jangan kamu bayangkan formasi ala KB, dimana seorang Ayah bertugas di balik kemudi, seorang wanita bersanggul duduk di sisinya, dan dua orang anak duduk manis di jok belakang
di mobil kami kondisinya tak pernah begitu
Papa memang selalu ada di kursi utama, menjadi penanggung jawab atas keselamatan kami semua
adik laki-laki saya memang duduk di jok belakang, meskipun menurut saya duduknya tidaklah manis
tapi di mobil kami tidak pernah ada sesosok wanita yang duduk mendampingi pengemudi sambil menerawang menatap jalan
di kursi sakral itu ada saya, dan Mama, yang tergusur ke jok belakang akan menemani si bungsu mengobrol dan menunjukkan ini-itu
selalu begitu
saya, adalah yang paling dinamis di mobil itu
sekali tempo kamu bisa melihat saya duduk cantik dengan baju rapi
lalu esoknya kamu mendapati saya, bersama bantal guling dan boneka di kursi yang sama
atau bisa jadi saya sedang duduk miring merenungi dunia luar, umumnya ini terjadi ketika hujan
tapi kerap akan kamu dapati saya, dan jok yang diturunkan bagian punggungnya, bantal besar dan kaki yang diangkat hingga menyentuh kaca mobil
saya suka pose itu, dan pemandangan langit yang tampak

sebenarnya sejak dulu saya selalu merasakan sebuah keganjilan
kenapa saya selalu didudukkan di kursi itu?
bukankah manusia di kursi sebelah pengemudi memiliki resiko terbesar kematian pada kecelakaan?
tidakkah Papa ingin melindungi saya?

baru hari ini saya temukan jawabannya

Papa selalu meminta saya duduk di sisinya
lalu menanyakan ini itu
bercerita ini itu
dan mengajarkan ini itu
adalah untuk mempersiapkan saya menghadapi satu hari itu

sudahkah kamu sadari?
sepenting apa sebenarnya posisi tempat duduk saya?

biar saya berikan sebuah analogi
jika rumah tangga itu sebuah pesawat tempur
maka di garda depannya akan ada ..?
yak pilot!! dan disisinya ada ..? co-pilot! itulah saya! ^^
ternyata sejak dulu sekali
Papa, dengan caranya yang halus dan tak kentara telah mempersiapkan diri saya
untuk mengambil alih kemudi seandainya Papa tertembak dan meninggal
Papa tahu pesawat tempur kami tak boleh mendarat turun
ia tak boleh lesu dan dibombardir peluru
pesawat tempur terbang dengan gagah
perkasa melanglang buana
tidak takut tidak gentar

dan menjadi co-pilot tidak semudah yang dibayangkan
ketika keadaan terdesak, co-pilot harus berhenti bergantung pada orang lain dan memikul semua tanggung jawab seorang diri

karena itulah Papa selalu meminta saya duduk di kursi nomor dua
karena Papa tahu tugas ini berat
dan Papa tahu, saya satu-satunya orang yang mampu
mengerjakan apa yang tidak mungkin, mewujudkan apa yang nyaris mustahil .. selama saya percaya pada diri saya, dan pada Papa

itulah makna dari semua cerita panjang yang Papa ceritakan dari balik kemudi
itulah beban yang diletakkannya sedikit demi sedikit di pundak saya

hei Sir, your co-pilot is ready, Sir!
now, you can fly over the moon yourself :')

1 komentar: