Tiba-tiba saja aku ingat
Hari itu, aku dan kamu duduk bersama di gazebo, sore hari, ketika suasana mulai lengang
Dan kamu membuka sesi curhat kita dengan sebuah pertanyaan :
‘kamu percaya nggak sama yang namanya karma’
Ya, tentu saja aku percaya!
Tapi butuh waktu cukup lama buatku memutuskan, jawaban mana yang akan aku berikan buat kamu
Saya sudah cukup punya pengalaman dengan orang-orang yang fanatik dalam (maaf) agamamu
Dan saya kerap mendapat pertanyaan-pertanyaan yang memang ditujukan untuk menciptakan perselisihan ..
Tapi, kali ini, saya memutuskan untuk mempercayai kamu, percaya bahwa alasan di balik pertanyaan itu adalah baik
“itu ada di agamaku, dan aku percaya”
Kamu tidak puas dengan jawaban itu
Lalu .. mengalirlah cerita itu
Tentang ketakutanmu akan karma
Yang berhubungan dengan seorang gadis yang telah mengukir nama di sudut hatimu
Diskusi kita berlangsung panjang, tenang,
Dengan jeda di sana-sini
Kamu mengambil jeda untuk menata perasaan, untuk memikirkan ulang apa yang telah kamu dan aku katakan
Aku mengambil jeda untuk meresapi suasana, aku saat itu, sudah tahu, bahwa setelah ini, tak akan ada lagi kedekatan di antara kita, tak ada lagi ngobrol-ngobrol berikutnya
Bincang-bincang kali itu kita tutup tanpa kesimpulan
Kamu pulang dengan bingung yang menumpuk
Aku pulang dengan lelah yang menggelayut
Dan pembicaraan hari itu
Selalu aku ingat
Kalimat pembuka kamu, menjadi penguat buat aku
‘kamu percaya nggak sama yang namanya karma’
Dan kini, setiap kali aku sedih, marah dan merasa diperlakukan tidak adil .. aku hanya akan mengingat kalimat itu
Dan aku tahu, aku hanya sedang bertanggung jawab atas apa yang pernah kulakukan
Aku, sedang hidup sesuai ‘karma’ku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar