Jumat, Desember 24

sebuah cerita, cinta

aku ingin menceritakan padamu .. hari - hari yang pernah kulalui bersama seorang wanita. dia bukanlah wanita yang pertama dalam hidupku. dia juga bukan yang terakhir.
dia hanyalah satu, kenangan selewat yang pernah menghiasi hari-hariku. tapi, ketika itu, aku begitu yakin bahwa dia akan jadi satu-satunya wanita yang kuinginkan seumur hidupku.
kamu mengenalnya. namanya, Lady. Lady, yang secerah matahari. namun dia bukanlah matahari terik yang menyengat. sinarnya, entah bagaimana, menyejukkan.
aku berkenalan dengan lady ini, sama sekali bukan kebetulan. aku percaya, hari itu, kami memang ditakdirkan untuk bertemu. Kita memang ditakdirkan untuk bertemu.
Pernahkah kamu mendengar tentang ‘cinta pada pandangan pertama?’ aku juga, aku telah berulang kali mendengarnya, dan tak pernah kupercayai hal serupa itu. Bagaimana mungkin kamu bisa jatuh cinta pada seseorang yang bahkan namanya pun kamu tak tahu? Menggelikan.
Aku sendiri beranggapan, tak mungkin aku mengalami kekonyolan itu. Selama ini, aku jatuh cinta pada pribadi seseorang bukan fisiknya. Yang kucintai dari wanita adalah pembawaannya, kebaikan hatinya, ketegarannya ..
Bagiku, ini bukan tentang bagaimana bentuk bibir seorang wanita, tapi mengenai apa yang dia ucapkan dengan bibir itu. Bukan tentang seberapa cantik matanya, tapi cara dia menatap. Aku tak peduli jari-jarinya lentik atau tidak, yang kupedulikan selalu tentang karya apa yang telah dihasilkan dengan jari-jari itu.
Jadi, kamu dapat memahami, bukan, betapa aku tak mungkin jatuh cinta hanya dengan memandang seseorang secara sepintas??
Tapi, ternyata, cinta memang tak selalu sejalan dengan logika. Kamu pun pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi kemudian .. ya, aku jatuh cinta ..
Yang aku ingat, hari itu adalah hari terpanas sepanjang sejarah kota kecil yang kudiami ini. Yang aku ingat, hari itu satu dari sederet hari dimana si Kumbang mogok. Yang aku ingat, aku masih menggerutu ketika memasuki resto fast food bersimbol huruf itu.
Lalu, aku melihat kamu. Gadis berseragam abu-abu yang masih amat belia, dengan rambut dibuntut kuda. Dan aku tak lagi ingat apapun. Sesaat aku hanya diam di sana, di pintu masuk, memandangi kamu. Kamu duduk membelakangi pintu masuk. Menatap ke dunia luar yang ada dibalik kaca. Ranselnya masih digendong, meskipun ada banyak kursi yang siap untuk menampung. Tungkai mu kausilangkan. Aku suka sekali profilmu saat itu. Seandainya bisa, akan kulukis pose dirimu saat itu juga, karena aku tak cukup mempercayai otakku sendiri untuk menyimpan pemandangan seindah itu.
Tapi ini bukan sinetron. Aku tidak berdiri di sana berjam-jam menunggu kamu menabrakku, sehingga akhirnya nanti kamu bisa jatuh ke dalam pelukanku. Yang terjadi adalah, kamu tetap duduk disana, dan aku berlalu untuk memesan makananku. ‘es krim vanila’ sama seperti yang kau pegang di tangan kananmu, yang kaujilat sesekali dengan pandangan melamun. Dan betapa aku berharap kita bisa menikmati es krim ini bersama.
Aku belum pernah melihat kamu bicara, atau tertawa. Aku belum bersitatap dengan kamu dan aku tak tahu apa saja yang telah kamu kerjakan selama hidupmu. Tapi aku sudah jatuh cinta. Aku sudah jatuh sayang. Aku sudah bisa membayangkan hari-hariku yang akan penuh dengan kamu. Kita bisa menonton film bersama di akhir pekan, lalu aku akan mengajakmu ke tempat ini setelahnya. Kamu akan mengatakan bahwa kamu bosan dan bertanya mengapa kita harus selalu makan di tempat ini. Lalu aku akan bercerita padamu tentang hari ini, dan betapa aku berterima kasih pada pemilik restoran ini.
Tapi kuketahui kemudian, itu semua selamanya hanya akan menjadi khayalan. Hari itu, aku tak berani untuk sekedar mengajakmu berkenalan. Aku hanya duduk saja disini, mengawasi kamu dan terlonjak jika seseorang tampak berjalan ke arahmu. Karena aku tahu, tak mungkin kamu duduk di situ tanpa alasan.
Dan aku takut, takut sekali, bagaimana jika alasanmu nanti akan mematahkan hatiku? Dua puluh menit penuh aku memandangimu sebelum akhirnya kamu bangkit dari dudukmu, dengan senyum di wajahmu. Mau tidak mau, aku mengikuti arah pandangmu, dan aku ikut tersenyum. Rupanya kamu sudah dijemput, oleh seseorang yang aku tahu pasti kakakmu. Kemiripan di antara kalian terlalu nyata untuk diabaikan. Dan aku memang tidak mau menerima kemungkinan lain.
Kupikir hari itu aku memang jatuh cinta. Dan hari itu aku juga patah hati. Entah kapan lagi aku bisa bertemu kamu?
Ternyata jawaban pertanyaan itu menyenangkan : kita bertemu lagi keesokan harinya. Di tempat parkir di salah satu gereja, masih di kawasan yang sama. Kali ini, kamu naik mobil beramai-ramai, pria kemarin masih ada. Aku makin yakin dia kakakmu. Aku batal patah hati. Aku percaya akan ada pertemuan ketiga.
Pertemuan ketiga itu memang terjadi, berbulan-bulan setelahnya. dan menjadi awal bagi pertemuan-pertemuan lain di antara kamu dan aku. Kali ini di perayaan ulang tahun seorang sahabat. Kamu pun ada di sana, berjalan beriring dengan teman-temanmu. Dan, demi Tuhan, kamu cantik sekali. Hari itu kita berkenalan, dan kudapatkan nomor ponselmu dari tuan rumah acara.
Aku mengirimkan sebuah ucapan selamat malam.
Dan tak perlu kita bahas apa yang terjadi setelahnya. Bisa kuhabiskan berhalaman-halaman hanya untuk bercerita tentang apa yang telah kita lalui. Dan sejujurnya, aku tak ingin pembaca manapun tahu. Biar aku dan kamu saja yang tahu.
Yang jelas, kamu telah menjadi bagian terbesar dari hari-hariku. Perbedaan usia kita menguntungkanku. Tanpa susah payah, kuatur jadwah kuliahku sedemikian rupa sehingga aku bisa menjadi sopir pribadimu setiap hari. Bidang yang kutekuni pun memungkinkan aku mencuri waktu memandangi wajahmu sementara kamu berusaha memecahkan deretan soal yang kubuat khusus untukmu.
Aku melakukan apapun demi kamu. Menginginkan kamu seumur hidupku. Aku berusaha keras demi senyum dan tawamu setiap hari. Dan setelah aku mengenalmu, jelas bagiku bahwa aku memang harus jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya, kuharap sampai mati. Kamu terlalu indah. Pribadimu, adalah yang tercantik yang pernah aku tahu.
Dan aku tak mau tahu yang lain.
Kamu tahu apa yang kuinginkan? Mengakhiri kisah ini dengan ‘kita pun bahagia selama-lamanya’
Dan Tuhan mengabulkan keinginanku, meski tidak dengan cara yang kuinginkan.
Aku ingin kita menikah, punya banyak anak, tinggal di sebuah rumah cantik dengan halaman yang luas dan penuh bunga. Aku ingin tua bersama kamu. Tapi ternyata kita tidak akan pernah duduk bersama di halaman depan rumah, di atas kursi goyang, sebagai kakek-nenek. Memandangi cucu-cucu kita berkejaran dengan doggy.
Sebulan sebelum hari kelulusan, kamu berlari keluar sekolah dengan secarik kertas tergenggam erat di tanganmu. Kamu seperti terbang ke arahku. Rambutmu menari-nari bersama angin dan matamu penuh antusiasme. Masih tersengal, kamu bercerita terpotong-potong tentang beasiswa, luar negeri dan kuliah. Di depan mataku, kamu tertawa bahagia. Aku hancur. Kukecup keningmu dan kukatakan bahwa kita harus pulang.
Sepanjang jalan kamu terus berceloteh tentang perjalanan itu. Aku remuk redam. Seharusnya aku bahagia untukmu. Dan aku memang bahagia. Kamu luar biasa, aku tahu itu sejak lama. Tapi aku juga ingin meratapi hubungan kita. Menangisi kemungkinan yang pasti kamu pilih nantinya.
Dan sekali lagi aku benar
‘aku ga mau kamu ngabisin waktu buat nunggu aku. aku yakin kamu pasti bisa nemuin orang lain yang lebih baik’
Dan aku tidak membantah. Karena aku terlanjur berikrar pada diriku sendiri untuk memenuhi setiap keinginanmu, untuk mempriorotaskan hanya kebahagiaanmu.
Rabu itu, aku mengantarmu ke bandara. Kedua belah tanganmu yang mungil kamu tangkupkan di sekeliling wajahku.
‘jaga diri baik-baik ya’ bisikmu
Aku tersenyum. Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu.
‘apa kamu akan bahagia, sayang?’ aku perlu kamu meyakinkanku, bahwa keputusan yang kita ambil ini tidak salah
‘tentu saja aku akan bahagia’ kamu tertawa kecil ‘aku pergi mengejar mimpi-mimpiku’ lalu matamu seperti disaput mendung
‘bagaimana dengan kamu? Apakah kamu akan bahagia?’
Perlahan kusentuh pipimu ‘aku bahagia jika kamu bahagia. Sesederhana itu’
Aku tahu itu benar
Hari itu, kita berpisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar